Posted 28 May 2008 — by Mahmudi Siwi
Category CSR
Artikel Jannus Siahaan di Koran Tempo (14/5/2008) sangat penting untuk mendapatkan perhatian kita semua. Ditengah hiruk pikuknya iklan-iklan terkait CSR, ia mengingatkan bahwa banyak sekali kemungkinan iklan-iklan itu jatuh kedalam kategori pengelabuan citra (greenwash) belaka. Citra perusahaan kerap dinyatakan sebagai variable antara dalam hubungan antara kinerja CSR dengan kinerja financial perusahaan, seperti yang diungkapkan oleh Chahal dan Sharma (2006). Buruknya, banyak perusahaan yang ”sadar” bahwa kalau mereka melakukan intervensi dalam citra belaka —bukan kinerja CSR sebenarnya— maka mereka juga bias mendapatkan keuntungan yang sama, bahkan dengan biaya jauh yang lebih sedikit. Ini sangatlah merugikan bagi perkembangan CSR lebih lanjut. Read More
Popularity: 16% [?]
Tags:
artikel,
citra,
CSR,
green,
greenwash,
iklan,
kinerja,
pengelabuan,
perusahaan,
wash,
waspada
Posted 19 May 2008 — by Mahmudi Siwi
Category CSR
CSR Workshop: Required Knowledge
Crowne Plaza Hotel, Jakarta, 11 Juni 2008, 08.00-17.00
Sesi 1. Kesalahan Pemahaman dan Praktik CSR
Pembicara: Tom Malik (Director, Burson Marsteller Indonesia)
Sesi 2. Pembangunan Berkelanjutan dan Genesis CSR
Pembicara: Jalal (Managing Director, A+ CSR Indonesia)
Sesi 3. Stakeholder: Identifikasi dan Strategi Hubungan
Pembicara: Pamadi Wibowo (Executive Director, Lingkar Studi CSR)
Sesi 4. ISO 26000 dan Berbagai Standar CSR
Pembicara: Timotheus Lesmana (Executive Director, Eka Tjipta Foundation)
Sesi 5. Transparensi dan Akuntabilitas melalui Pelaporan CSR
Pembicara: Sonny Sukada (Partner, Kiroyan and Partners)
Read More
Popularity: 6% [?]
Posted 08 May 2008 — by Mahmudi Siwi
Category CSR
Lester Thurow, tahun 1066 dalam bukunya “The Future of Capitalism”, sudah memprediksikan bahwa pada saatnya nanti, kapitalisme akan berjalan kencang tanpa perlawanan. Hal ini disebabkan, musuh utamanya, sosialisme dan komunisme telah lenyap. Pemikiran Thurow ini menggaris bawahi bahwa kapitalisme tak hanya berurusan pada ekonomi semata, melainkan juga memasukkan unsure social dan lingkungan untuk membangun masyarakat, atau yang kemudian disebut sustainable society. Padajamannya, pemikiran Thurow tersebut sulit diaplikasikan, hal ini ia tuliskan seperti there is no socialn ‘must’ in capitalism.
Jaman pun berlalu, tahun 1962, Rachel Calson lewat bukunya “The Silent Spring”, memaparkan pada dunia tentang kerusakan lingkungan dan kehidupan yang diakibatkan oleh racun peptisida yang mematikan. Paparan yang disampaikan dalam buku “Silent Spring” tersebut menggugah kesadaran banyak pihak bahwa tingkah laku korporasi harus diluruskan sebelum menuju kehancuran bersama. Dari sini CSR (Corporate Social Responsibility) pun mulai digaungkan. Tepatnya di era 1970-an. Banyak professor menulis buku tentang pentingnya tanggung jawab sosial mperusahaan, di samping kegiatan mengeruk untung. Buku-buku tersebut antara lain; “Beyond the bottom line” karya Prof. Courtney C. Brown, orang pertama penerima gelar Professor of Public Polecy and Business Responsibility dari Universitas Columbia. Read More
Popularity: 7% [?]
Mau lihat wajah pendidikan bangsa ini? Lihat saja beberapa kasus penyelenggaraan UAN tingkat SMU yang baru selesai beberapa hari kemarin. Berbagai kasus terjadi, dan hampir selalu terulang setiap tahunnya. Kasus yang santer di TV adalah tertangkapnya 17 guru yang merubah jawaban muridnya. Tentu kita prihatin dengan kasus ini, karena tentu kasus ini tidak hanya satu kasus saja, banyak kasus lain yang serupa maupun berbeda.
Yang membuat aneh dari kasus itu adalah sudah tahu “salah” tapi masih saja dibela oleh murid, alumni dan orang tua murid. Ini apakah pertanda bahwa masyarakat kita sudah mulai tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah?
Ada beberapa hal yang perlu dicermati.
Pertama, guru adalah teladan bagi muridnya. Bagaimana bisa mewujudkan SDM yang berkualitas jika ternyata guru tidak bisa menjadi teladan yang baik bagi muridnya. Jika guru sudah melakukan kecurangan hanya demi meraih “citra” sekolah yang baik, tentu ini tidak dibenarkan, apapun itu alasannya.
K edua, sistem pendidikan kita, termasuk sistem penyelenggaraan UAN. Pemerintah pusat, tentu perlu membuka ruang dialog tentang penyelenggaraan UAN. Berbagai kasus yang terjadi perlu disikapi dengan memberikan solusi terhadap penyelenggaraan UAN kedepan.
Popularity: 5% [?]