Beda Abstrak dan Ringkasan

7 Comments
Tags: , ,
Posted 05 Jan 2009 in Kuliah

Pada tulisan ini saya akan membahas beda ABSTRAK dengan RINGKASAN. Tapi sebelum membahas secara definisi, berikut saya cantumkan contoh dari keduanya.

Contoh Abstrak:

Kebiasaan Konsumsi Air Minum dan Minuman Lainnya
pada Remaja di Daerah Pantai dan Pegunungan

Dodik Briawan, Hardinsyah, Zulaikhah, Marhamah

Abstrak

Desain studi ini cross-sectional yang dilakukan di Jakarta Utara (pantai) dan di Bandung Barat (pegunungan)  dengan  suhu rata-rata harian 22oC dan 28oC. Sampel dipililih secara acak dari sekolahan berturut-turut sebanyak 110 orang  dan 99 orang dari masing-masing lokasi.  Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, dan recall selama satu minggu untuk frekuensi  konsumsi aneka jenis minuman.  Sebagian besar (73,2%) remaja di pegunungan lebih menyukai air minum (air putih)  tanpa kemasan.  Namun kebiasaan tersebut berbeda untuk di daerah pantai, yaitu proporsi remaja yang mengkonsumsi air minum tanpa kemasan relatif sama dengan air kemasan (52,3% dan 47,7%).  Berdasarkan konsumsi minuman seminggu yang lalu, frekuensi konsumsi air minum tanpa kemasan lebih rendah di pantai (3,5 kali/hari) dari pada di pegunungan (4,6 kali/hari).  Tetapi untuk frekuensi air minum kemasan lebih tinggi di pantai (3,9 kali/hari) dibandingkan di pegunungan (1,8 kali/hari).  Alasan remaja lebih menyukai air minum kemasan dan tanpa kemasan adalah 80-85% karena faktor keamanannya.   Jenis minuman lainnya yang disukai remaja adalah teh dan kopi, yaitu dikonsumsi oleh 87% remaja di pantai dan 83% di pegunungan.   Frekuensi minuman tersebut 10,3 kali/minggudi pantai dan 11,5 kali/minggu di pegunungan.  Susu dan yougurt dikonsumsi oleh 75% di pantai dan 61% di pegunungan, dengan frekuensi berturut-turut sebesar 8,3 kali/mingggu dan 5,5 kali/minggu.  Jenis minuman lain seperti jus, minuman karbonasi, minuman elektrolit, jamu, jelly, sari buah frekuensi konsumsinya sangat kecil, yaitu kurang dari 1-2 kali/minggu.  Dari pola frekuensi konsumsi minuman tersebut, tampak bahwa air minum kontribusinya paling besar didalam menyumbang total asupan air  ke dalam tubuh remaja.

Key words: air minum, frekuensi konsumsi minuman, remaja, pantai, pegunungan

Contoh Ringkasan:

Masalah ketahanan pangan dan juga masalah kemiskinan pada hakikatnya merupakan masalah pembangunan masyarakat pedesaan. Sehingga arah pembangunan ketahanan pangan seharusnya difokuskan pada upaya-upaya untuk memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat di pedesaan, khususnya keluarga (rumahtangga) petani gurem. Agar kepentingan pemerintah dan kepentingan petani dalam upaya pembangunan ketahanan pangan dapat diharmoniskan, maka dibutuhkan pemberdayaan petani agar mereka dapat berperansetara (subyek to subyek) dengan pemerintah. Jika kondisi ini tercapai, maka adalah suatu keniscayaan pembangunan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani dapat diwujudkan.

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah menyusun model pemberdayaan petani untuk mempercepat terwujudnya kemandirian dan keberlanjutan ketahanan pangan rumah tangga dan nasional. Pemberdayaan petani merupakan jalan bagi partisipasi petani dalam program-program ketahanan pangan masyarakat sehingga mampu mewujudkan desa mandiri-sejahtera. Sedangkan tujuan jangka pendek penelitian ini adalah melakukan review arah, tujuan, pendekatan program-yang terkait dengan kebijakan ketahanan pangan (terutama program desa mandiri pangan); mengkaji dinamika sosial, budaya, ekonomi,  dan politik masyarakat desa di daerah rawan pangan berbasis pada keragaman modal sosial lokal dan ekologi setempat; serta mengkaji kelembagaan lokal dan ketahanan pangan rumah tangga petani.

Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, pada tahun II tahapan kegiatan yang dilakukan adalah: (1) menganalisis dinamika sosial, ekonomi, politik tata kelola ketahanan pangan  masyarakat desa; (2) menganalisis pengembangan kelembagaan ketahanan pangan lokal dalam mendukung ketahanan pangan rumahtangga petani; (3) mencari bentuk (model) pemberdayaan petani berdasarkan strategi komunitas (sosio-budaya-ekonomi-politik)  dan strategi agroekosistem; (4) menyusun ciri-ciri rumahtangga petani mandiri dan sejahtera.
Penelitian dilakukan di dua provinsi, yaitu: Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di setiap provinsi ditentukan satu kabupaten yang telah ditetapkan sebagai lokasi program aksi desa mandiri pangan (TA 2006), yaitu untuk Jawa Barat adalah kabupaten Garut: desa Cigadog kecamatan Cikelet dan desa Girijaya kecamatan Kersamanah; dan untuk Jawa Tengah adalah kabupaten Klaten: desa Jambakan kecamatan Bayat dan desa Glagah kecamatan Jatinom.

Metode yang digunakan dalam penelitian tahun II adalah pendekatan kualitatif (data yang digunakan data kuantitatif dan data kualitatif) dengan studi kasus desa, pendekatan partisipatif dan analisis gender, serta analisis stakeholder dan musyawarah.  Pendekatan kualitatif (diskusi dan wawancara mendalam) untuk mengkaji dinamika masyarakat pedesaan. Pendekatan partisipatif dan analisis gender untuk menemukan model pemberdayaan petani. Analisis stakeholder dan musyawarah digunakan untuk merumuskan kriteria rumahtangga petani mandiri dan sejahtera.

Hasil penelitian tahun II menunjukkan bahwa:

  1. Implementasi program mandiri pangan sudah memasuki tahun III (tahap pengembangan). Berdasarkan indikator keberhasilan kegiatan yang digunakan untuk mengukur aspek pemberdayaan kelompok afinitas, yaitu: (1) terlaksananya pelatihan teknis, (2) terlaksananya program kerja pendampingan, (3) terlaksananya kegiatan magang, (4) peningkatan akses (permodalan dan pemasaran), (5) terlaksananya kegiatan pengembangan usaha dengan pendapatan yang layak, menunjukkan bahwa perkembangan kelompok di kabupaten Garut relatif lebih baik dibandingkan di kabupaten Klaten. Perkembangan kelompok di desa Girijaya relatif lebih baik dibandingkan desa Cigadog kabupaten Garut. Perkembangan kelompok di desa Glagah relatif lebih baik dibandingkan desa Jambakan kabupaten Klaten.
  2. Salah satu faktor penentu keberhasilan perkembangan kelompok afinitas adalah adanya kesesuaian antara usaha yang dikembangkan oleh anggota kelompok dengan kontekstual setempat, yang dipengaruhi oleh dinamika sosial ekonomi politik dan ekologi tata kelola ketahanan pangan masyarakat. Pada dasarnya pola-pola aktivitas nafkah yang dikembangkan merupakan bentuk adaptasi dari dinamika tersebut. Arah perkembangan usaha kelompok desa Girijaya adalah pada kegiatan off farm (kerajinan rumahtangga) dan nafkah di luar desa (dagang), sementara desa Cigadog masih bisa dikembangkan potensi pertanian dan kelautan sebagai basis usaha di pedesaan, dengan syarat ada dukungan politik dan ekologi dalam tata kelola ketahanan pangan masyarakat. Arah perkembangan usaha kelompok desa Glagah juga pada basis kegiatan off farm (industri rumahtangga dan tebasan), serta pengembangan potensi pertanian lahan kering dan buah-buahan, sementara desa Jambakan berkembang ke usaha off farm (industri rumahtangga).
  3. Kelembagaan ketahanan pangan (kelompok afinitas) mengalami perkembangan yang berbeda di tiap wilayah, mengikuti tahap persiapan dan penumbuhan yang sudah dilakukan sebelumnya, dan dipengaruhi pula oleh kelembagaan asli dan kelembagaan atas desa. Kelembagaan ketahanan pangan di dua desa di kabupaten Garut dibangun berdasarkan kesepakatan dari warga tiap dusun untuk menentukan anggota, pengurus, jenis usaha sesuai kondisi lokal, dengan didampingi oleh pendamping dan PPL yang cukup kompeten. Kelembagaan asli, lumbung paceklik dan beras parelek yang didasari solidaritas, kerjasama, dan dukungan lembaga pengajian sebagai wadah masuk program serta dukungan pemerintah desa telah membuat kelembagaan ketahanan pangan yang dibangun menjadi semakin kuat. Namun kemampuan ini belum cukup memadai untuk terus berkembang besar, karena dukungan pemerintah atas desa masih lemah. Kelembagaan ketahanan pangan (kelompok afinitas) di dua desa di kabupaten Klaten lebih memprihatinkan perkembangannya karena kelembagaan asli memudar, kelembagaan kelompok afinitas tidak dibangun dengan baik dan tidak didampingi dengan baik pula. Sementara dukungan dari pemerintah atas desa cenderung bersifat instan dan tidak berkelanjutan.
  4. Model pemberdayaan petani di setiap desa juga spesifik menurut dinamika masyarakat, perkembangan kelembagaan kelompok afinitas, serta tahapan perkembangan implementasi program mapan. Di kabupaten Garut, kegiatan pemberdayaan kelompok afinitas relatif lebih berhasil dibandingkan kabupaten Klaten, karena kegiatan pendampingan relatif terkawal lebih baik. Situasi konflik politik dan kepentingan aktor sangat mewarnai kegiatan pemberdayaan petani di kabupaten Klaten, sehingga relatif berjalan lebih lambat.
  5. Ciri-ciri rumahtangga petani mandiri dan sejahtera juga beragam menurut lokasi. Petani di desa Girijaya kabupaten Garut relatif lebih mandiri secara ekonomi, dan sejalan dengan kesejahteraan ekonomi maupun sosial (pengembangan solidaritas, kerjasama, rasa aman dan tentram. Dalam bahasa sunda: saling asah, saling asuh, dan saling asih). Warga miskin di desa Jambakan kabupaten Klaten belum memiliki kemampuan untuk memperjuangkan hak-haknya mengakses program, perkembangan usaha ke arah off farm masih dikuasai golongan non rumahtangga miskin, didukung oleh kepentingan elite desa. Solidaritas dan kerjasama melemah. Hal ini masih didukung oleh program-program atas desa yang cenderung bersifat instan dan tidak berkelanjutan, hanya untuk kepentingan “image pemerintah atas desa” saja.

Popularity: 23% [?]


7 Comments

  1. makasih mas contoh abstrak dan ringkasannya.

  2. sama-sama. semoga bermanfaat.

  3. Ami KPM44

    oo…jadi mulai ngerti bedanya abstrak dan ringkasan.
    Makasih Mas.
    Tapi masih agak bingung,ringkasannya ga harus sepanjang itu kan ya?

  4. ok. jadi bisa ngejelasin temen yg lain donk. Untuk tugasnya, ringkasannya tidak perlu sepanjang itu, disesuaikan aja.

  5. Ami KPM 44

    Maf Mas, maximal halaman tugas akhir BMI 15 halaman y? kalau lebih boleh ga?

    judul makalah saya Pengaruh Otonomi Daerah terhadap Kebijakan Pendidikian di daerah, gapapa kan ya Mas?

    agak shock waktu dengar ada teman yang di minta untuk mengulang makalah yang sudah di buat

    terima kasih sebelumnya..

  6. Diah Irma A

    asw… mas, judul makalah saya ” persepsi pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian” gak apa-apa kan?

    makalahnya harus 15 halaman yach? kalau lebih? soalnya yang saya belum da tabel,dll…

    saya merasa kalau makalah itu lebih banyak tinjauan pustakanya daripada pembahasanya… jadi agak bingung juga..

  7. priya

    makasih atas beda abstrak n ringkasannya… yang membaawa manfaat bg saya.
    semoga mas Mahmudi senantiasa berbahagia…
    salam



Add Your Comment