<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title># perjalanan dan berbagi # &#187; Kuliah</title>
	<atom:link href="http://mahmudisiwi.net/category/kuliah-bmi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mahmudisiwi.net</link>
	<description>Hidup harus memberi manfaat...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Aug 2010 02:57:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Memasuki Semester 2</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/semester-2/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/semester-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 15:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi pedesaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Tak terasa, kuliah sudah memasuki semester 2. Awal-awal sempat khawatir tentang biaya kuliah, tapi dengan keyakinan bahwa rejeki ada yang ngatur, maka Alhamdlulillah atas seijin Allah saya dipertemukan seseorang yang mau bantu biaya kuliah saya. Benar-benar orang yang baik dan tulus, semoga segala kebaikan dilimpahkan untuk beliau. Dengan berbagai keterbatasan dan kendala selama proses seleksi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_237" class="wp-caption alignright" style="width: 263px"><a href="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2010/02/sama-bagas.jpg" onclick=""><img class="size-medium wp-image-237" title="sama bagas" src="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2010/02/sama-bagas-263x300.jpg" alt="" width="263" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">tersenyum</p></div>
<p>Tak terasa, kuliah sudah memasuki semester 2. Awal-awal sempat khawatir tentang biaya kuliah, tapi dengan keyakinan bahwa rejeki ada yang ngatur, maka Alhamdlulillah atas seijin Allah saya dipertemukan seseorang yang mau bantu biaya kuliah saya. Benar-benar orang yang baik dan tulus, semoga segala kebaikan dilimpahkan untuk beliau.</p>
<p>Dengan berbagai keterbatasan dan kendala selama proses seleksi, akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk kuliah di program studi Sosiologi Pedesaan, Sekolah Pascasarjana IPB. Semester 1 ini, saya mengambil empat mata kuliah: struktur dan organisasi sosial, psikologi sosial, teori ekologi manusia, dan teori kependudukan.</p>
<p>Awal kuliah yang berat, maklum kuliah sambil kerja. Dibandingkan dengan temen-temen yang lain, hasil kuliah saya bisa dibilang &#8220;lumayan&#8221; dan saya bersyukur atas pencapaian itu, meskipun belum puas dengan hasilnya.</p>
<p>Semester 2 ini, semoga lebih baik. Masih tetap harus kerja, tapi semoga dapat lebih fokus lagi untuk menyelesaikan kuliah dengan segera, maklumlah tidak ada biaya lebih, jadi kuliahnya musti bisa selesai tepat waktu. Saya Pasti Bisa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/semester-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ontologi, Epistemologi, dan Axiologi</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/ontologi-epistemologi-dan-axiologi/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/ontologi-epistemologi-dan-axiologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 15:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[axiologi]]></category>
		<category><![CDATA[epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[ontologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai mahasiswa tentu tugas akhirnya adalah melakukan penelitian, dan output dari penelitian bagi mahasiswa tingkat sarjana (S1) adalah skripsi atau thesis bagi mahasiswa tingkat S2. Dalam pengamatan saya selama menjadi asisten beberapa matakuliah di kampus IPB, mahasiswa terutama mahasiswa S1 seringkali mengalami kesulitan dalam menentukan topik penelitiannya. Oke, mari kita sama-sama menyimak sebuah kisah, semoga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2009/08/DSC_00321.JPG" onclick=""><img class="alignright size-medium wp-image-220" title="DSC_0032" src="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2009/08/DSC_00321-300x198.jpg" alt="DSC_0032" width="300" height="198" /></a>Sebagai mahasiswa tentu tugas akhirnya adalah melakukan penelitian, dan output dari penelitian bagi mahasiswa tingkat sarjana (S1) adalah skripsi atau thesis bagi mahasiswa tingkat S2. Dalam pengamatan saya selama menjadi asisten beberapa matakuliah di kampus IPB, mahasiswa terutama mahasiswa S1 seringkali mengalami kesulitan dalam menentukan topik penelitiannya. Oke, mari kita sama-sama menyimak sebuah kisah, semoga dapat menginpirasi untuk penelitian. Kira-kira begini kisahnya:<span id="more-218"></span></p>
<blockquote><p>Pada suatu ketika di negeri Arab (anggap saja begitu), terdapat orang yang sangat terkenal dengan keahliaannya memainkan jarum jahit pakaian. Dia mampu menembakkan jarum tersebut, ke lubang jarum yang lain dari jarak 5 meter.</p>
<p>Keahlian orang tersebut sampai terdengarlah ke Sang Raja, dan Sang Raja tersebut memerintahkan kepada abdi kerajaan untuk memanggil orang tersebut dan memperagakan di depannya. Benar saja, Sang Raja sangat terkagum-kagum dengan keahlian yang dimiliki oleh orang tersebut, dan Raja memberikan hadiah 100 dirham. Tapi setelah mengambil uang tersebut, dia justru mendapat cambukan 100 kali. Kagetlah orang tersebut, lalu bertanya kepada Sang Raja:</p>
<p>Hamba    : “Wahai Raja, kenapa saya diberi hadiah 100 dirham, lalu saya di cambuk 100 kali?”</p>
<p>Sang Raja: “Saya memberikan hadiah karena saya takjub dengan keahlian yang kamu miliki. Dan saya memberikan cambukan karena saya menyesal dengan keahlian yang kamu miliki.”</p>
<p>Hamba: “kenapa menyesal, Baginda?”</p>
<p>Sang Raja: “Karena buat apa memiliki keahlian seperti itu. Apakah mungkin seorang penjahit untuk memasukkan benangnya melakukan dengan cara seperti kamu? Keahlian kamu itu, tidak memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar kamu”.</p></blockquote>
<p>Dari cerita tersebut dapat dijelaskan seperti yang telah dijelaskan oleh Suriasumantri (1981:4-5) tentang hubungan falsafah dengan ilmu. Ilmu pengatahun selalu didasari oleh 3 (tiga) hal, yakni dasar ontology, dasar epistemology dan dasar axiology. Lalu apa yang membedakan dari ketiga dasar tersebut?</p>
<p>Suriasumantri (1981) dalam Wahyuni dan Muljono (2007) menjelaskan bahwa ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, atau suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Epistemologi adalah untuk menjawab, bagaimana cara kita mendapatkan pengetahuan mengenai obyek tersebut. Sedangkan axiologi adalah tentang apa kegunaan pengetahuan tersebut.</p>
<p>Jadi, perbedaan ontologi, epistemologi dan axiologi dapat disederhanakan bahwa onotologi = apa yang ingin diketahui, epistemologi = metode mendapatkan pengetahuan, dan axiologi = manfaat/kegunaan pengetahuan tersebut.</p>
<p>Nah, mungkin kita bertanya, apa hubungannya dengan menentukan topik penelitian? Topik penelitian kita bisa jadi secara ontologi dan epistemologi benar, tapi belum tentu secara axiologi penelitian kita akan bermanfaat bagi masyarakat luas, seperti yang terjadi dalam kisah diatas. Lalu musti bagaimana? Saya berpendapat bahwa penelitian mahasiswa tingkat sarjana (S1) wajib memiliki kebenaran ontologi dan epistemologi, namun akan lebih baik lagi jika secara axiologi memiliki manfaat yang baik bagi masyarakat luas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/ontologi-epistemologi-dan-axiologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KELEMBAGAAN PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA MISKIN PADA MASYARAKAT PETANI DAN NELAYAN</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/sinopsis-penelitian-s2-saya/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/sinopsis-penelitian-s2-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 14:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[S2]]></category>
		<category><![CDATA[sinopsis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mahmudi Siwi Paradigma pembangunan nasional telah bergeser dari pendekatan top down ke arah pendekatan yang lebih mengutamakan peran aktif masyarakat, salahsatunya melalui program pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat merupakan usaha untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu meningkatkan kapasitas diri dan masyarakat dalam proses pembangunan, termasuk untuk mengatasi kemiskinan. Penelitian  “Kelembagaan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Miskin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_215" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"></p>
<div style="text-align: auto;"><strong><br />
</strong></div>
<p><a href="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2009/04/tumb-FBku.jpg" onclick=""><img class="size-medium wp-image-215" title="tumb FBku" src="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2009/04/tumb-FBku-300x260.jpg" alt="pergi memancing" width="300" height="260" /></a><p class="wp-caption-text">pergi memancing</p></div>
<p>Oleh: Mahmudi Siwi</p>
<p>Paradigma pembangunan nasional telah bergeser dari pendekatan top down ke arah pendekatan yang lebih mengutamakan peran aktif masyarakat, salahsatunya melalui program pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat merupakan usaha untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu meningkatkan kapasitas diri dan masyarakat dalam proses pembangunan, termasuk untuk mengatasi kemiskinan.</p>
<p><span id="more-193"></span></p>
<p>Penelitian  “Kelembagaan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Miskin pada Masyarakat Petani dan Nelayan”  ini bertujuan untuk memahami peran kelembagaan dalam proses pemberdayaan ekonomi keluarga pada masyarakat petani dan nelayan sebagai salah satu upaya penanggulangan kemiskinan.  Untuk menjelaskan tujuan tersebut, maka secara khusus penelitian ini akan menggali dan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Menganalisis kelembagaan lokal dalam pemberdayaan ekonomi keluarga miskin pada masyarakat petani dan nelayan.</li>
<li>Menggambarkan dan menganalisis proses-proses pemberdayaan ekonomi keluarga miskin pada masyarakat petani dan nelayan</li>
<li>Merumuskan strategi pemberdayaan ekonomi keluarga pada masyarakat petani dan nelayan yang didasarkan pada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat setempat dalam upaya penanggulangan kemiskinan.</li>
</ol>
<p>Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebuah gambaran yang menyeluruh tentang kelembagaan lokal dalam proses pemberdayaan ekonomi keluarga miskin pada 2 (dua) komunitas yang berbeda, yakni komunitas petani dan komunitas nelayan. Secara terperinci keluaran penelitian adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Deksripsi mengenai kelembagaan lokal yang mendukung dan menghambat dalam upaya pemberdayaan ekonomi keluarga miskin pada masyarakat petani dan nelayan,</li>
<li>Proses-proses pemberdayaan ekonomi keluarga miskin pada masyarakat petani dan nelayan,</li>
<li>Strategi pemberdayaan ekonomi keluarga pada masyarakat petani dan nelayan yang didasarkan pada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat setempat dalam upaya penanggulangan kemiskinan, dan</li>
<li>Model pemberdayaan ekonomi keluarga miskin pada masyarakat petani dan nelayan untuk penanggulangan kemiskinan.</li>
</ol>
<p>Penelitian ini akan dilaksanakan secara kualitatif dengan strategi studi kasus di dua lokasi berbeda dan komunitas yang berbeda, yakni petani dan nelayan. Pada masing-masing komunitas akan dilakukan pengamatan, wawancara mendalam dan FGD dengan responden keluarga miskin.</p>
<p>Tulisan ini merupakan sinopsis penelitian S2 saya untuk persyaratan pendaftaran sekolah pascasarjana IPB. Semoga ini merupakan langkah awal untuk meraih masa depan yang lebih baik&#8230; Amiin&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/sinopsis-penelitian-s2-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beda Abstrak dan Ringkasan</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/beda-abstrak-dan-ringkasan/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/beda-abstrak-dan-ringkasan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 07:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[abstrak]]></category>
		<category><![CDATA[ringkasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Pada tulisan ini saya akan membahas beda ABSTRAK dengan RINGKASAN. Tapi sebelum membahas secara definisi, berikut saya cantumkan contoh dari keduanya. Contoh Abstrak: Kebiasaan Konsumsi Air Minum dan Minuman Lainnya pada Remaja di Daerah Pantai dan Pegunungan Dodik Briawan, Hardinsyah, Zulaikhah, Marhamah Abstrak Desain studi ini cross-sectional yang dilakukan di Jakarta Utara (pantai) dan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tulisan ini saya akan membahas beda ABSTRAK dengan RINGKASAN. Tapi sebelum membahas secara definisi, berikut saya cantumkan contoh dari keduanya.<span id="more-129"></span></p>
<p>Contoh Abstrak:</p>
<blockquote><p>Kebiasaan Konsumsi Air Minum dan Minuman Lainnya<br />
pada Remaja di Daerah Pantai dan Pegunungan</p>
<p>Dodik Briawan, Hardinsyah, Zulaikhah, Marhamah</p>
<p>Abstrak</p>
<p>Desain studi ini <em>cross-sectional</em> yang dilakukan di Jakarta Utara (pantai) dan di Bandung Barat (pegunungan)  dengan  suhu rata-rata harian 22oC dan 28oC. Sampel dipililih secara acak dari sekolahan berturut-turut sebanyak 110 orang  dan 99 orang dari masing-masing lokasi.  Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, dan recall selama satu minggu untuk frekuensi  konsumsi aneka jenis minuman.  Sebagian besar (73,2%) remaja di pegunungan lebih menyukai air minum (air putih)  tanpa kemasan.  Namun kebiasaan tersebut berbeda untuk di daerah pantai, yaitu proporsi remaja yang mengkonsumsi air minum tanpa kemasan relatif sama dengan air kemasan (52,3% dan 47,7%).  Berdasarkan konsumsi minuman seminggu yang lalu, frekuensi konsumsi air minum tanpa kemasan lebih rendah di pantai (3,5 kali/hari) dari pada di pegunungan (4,6 kali/hari).  Tetapi untuk frekuensi air minum kemasan lebih tinggi di pantai (3,9 kali/hari) dibandingkan di pegunungan (1,8 kali/hari).  Alasan remaja lebih menyukai air minum kemasan dan tanpa kemasan adalah 80-85% karena faktor keamanannya.   Jenis minuman lainnya yang disukai remaja adalah teh dan kopi, yaitu dikonsumsi oleh 87% remaja di pantai dan 83% di pegunungan.   Frekuensi minuman tersebut 10,3 kali/minggudi pantai dan 11,5 kali/minggu di pegunungan.  Susu dan yougurt dikonsumsi oleh 75% di pantai dan 61% di pegunungan, dengan frekuensi berturut-turut sebesar 8,3 kali/mingggu dan 5,5 kali/minggu.  Jenis minuman lain seperti jus, minuman karbonasi, minuman elektrolit, jamu, jelly, sari buah frekuensi konsumsinya sangat kecil, yaitu kurang dari 1-2 kali/minggu.  Dari pola frekuensi konsumsi minuman tersebut, tampak bahwa air minum kontribusinya paling besar didalam menyumbang total asupan air  ke dalam tubuh remaja.</p>
<p><em>Key words: air minum, frekuensi konsumsi minuman, remaja, pantai, pegunungan</em></p></blockquote>
<p>Contoh Ringkasan:</p>
<blockquote><p>Masalah ketahanan pangan dan juga masalah kemiskinan pada hakikatnya merupakan masalah pembangunan masyarakat pedesaan. Sehingga arah pembangunan ketahanan pangan seharusnya difokuskan pada upaya-upaya untuk memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat di pedesaan, khususnya keluarga (rumahtangga) petani gurem. Agar kepentingan pemerintah dan kepentingan petani dalam upaya pembangunan ketahanan pangan dapat diharmoniskan, maka dibutuhkan pemberdayaan petani agar mereka dapat berperansetara (subyek to subyek) dengan pemerintah. Jika kondisi ini tercapai, maka adalah suatu keniscayaan pembangunan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani dapat diwujudkan.</p>
<p>Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah menyusun model pemberdayaan petani untuk mempercepat terwujudnya kemandirian dan keberlanjutan ketahanan pangan rumah tangga dan nasional. Pemberdayaan petani merupakan jalan bagi partisipasi petani dalam program-program ketahanan pangan masyarakat sehingga mampu mewujudkan desa mandiri-sejahtera. Sedangkan tujuan jangka pendek penelitian ini adalah melakukan review arah, tujuan, pendekatan program-yang terkait dengan kebijakan ketahanan pangan (terutama program desa mandiri pangan); mengkaji dinamika sosial, budaya, ekonomi,  dan politik masyarakat desa di daerah rawan pangan berbasis pada keragaman modal sosial lokal dan ekologi setempat; serta mengkaji kelembagaan lokal dan ketahanan pangan rumah tangga petani.</p>
<p>Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, pada tahun II tahapan kegiatan yang dilakukan adalah: (1) menganalisis dinamika sosial, ekonomi, politik tata kelola ketahanan pangan  masyarakat desa; (2) menganalisis pengembangan kelembagaan ketahanan pangan lokal dalam mendukung ketahanan pangan rumahtangga petani; (3) mencari bentuk (model) pemberdayaan petani berdasarkan strategi komunitas (sosio-budaya-ekonomi-politik)  dan strategi agroekosistem; (4) menyusun ciri-ciri rumahtangga petani mandiri dan sejahtera.<br />
Penelitian dilakukan di dua provinsi, yaitu: Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di setiap provinsi ditentukan satu kabupaten yang telah ditetapkan sebagai lokasi program aksi desa mandiri pangan (TA 2006), yaitu untuk Jawa Barat adalah kabupaten Garut: desa Cigadog kecamatan Cikelet dan desa Girijaya kecamatan Kersamanah; dan untuk Jawa Tengah adalah kabupaten Klaten: desa Jambakan kecamatan Bayat dan desa Glagah kecamatan Jatinom.</p>
<p>Metode yang digunakan dalam penelitian tahun II adalah pendekatan kualitatif (data yang digunakan data kuantitatif dan data kualitatif) dengan studi kasus desa, pendekatan partisipatif dan analisis gender, serta analisis stakeholder dan musyawarah.  Pendekatan kualitatif (diskusi dan wawancara mendalam) untuk mengkaji dinamika masyarakat pedesaan. Pendekatan partisipatif dan analisis gender untuk menemukan model pemberdayaan petani. Analisis stakeholder dan musyawarah digunakan untuk merumuskan kriteria rumahtangga petani mandiri dan sejahtera.</p>
<p>Hasil penelitian tahun II menunjukkan bahwa:</p></blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>Implementasi program mandiri pangan sudah memasuki tahun III (tahap pengembangan). Berdasarkan indikator keberhasilan kegiatan yang digunakan untuk mengukur aspek pemberdayaan kelompok afinitas, yaitu: (1) terlaksananya pelatihan teknis, (2) terlaksananya program kerja pendampingan, (3) terlaksananya kegiatan magang, (4) peningkatan akses (permodalan dan pemasaran), (5) terlaksananya kegiatan pengembangan usaha dengan pendapatan yang layak, menunjukkan bahwa perkembangan kelompok di kabupaten Garut relatif lebih baik dibandingkan di kabupaten Klaten. Perkembangan kelompok di desa Girijaya relatif lebih baik dibandingkan desa Cigadog kabupaten Garut. Perkembangan kelompok di desa Glagah relatif lebih baik dibandingkan desa Jambakan kabupaten Klaten.</li>
<li>Salah satu faktor penentu keberhasilan perkembangan kelompok afinitas adalah adanya kesesuaian antara usaha yang dikembangkan oleh anggota kelompok dengan kontekstual setempat, yang dipengaruhi oleh dinamika sosial ekonomi politik dan ekologi tata kelola ketahanan pangan masyarakat. Pada dasarnya pola-pola aktivitas nafkah yang dikembangkan merupakan bentuk adaptasi dari dinamika tersebut. Arah perkembangan usaha kelompok desa Girijaya adalah pada kegiatan off farm (kerajinan rumahtangga) dan nafkah di luar desa (dagang), sementara desa Cigadog masih bisa dikembangkan potensi pertanian dan kelautan sebagai basis usaha di pedesaan, dengan syarat ada dukungan politik dan ekologi dalam tata kelola ketahanan pangan masyarakat. Arah perkembangan usaha kelompok desa Glagah juga pada basis kegiatan off farm (industri rumahtangga dan tebasan), serta pengembangan potensi pertanian lahan kering dan buah-buahan, sementara desa Jambakan berkembang ke usaha off farm (industri rumahtangga).</li>
<li>Kelembagaan ketahanan pangan (kelompok afinitas) mengalami perkembangan yang berbeda di tiap wilayah, mengikuti tahap persiapan dan penumbuhan yang sudah dilakukan sebelumnya, dan dipengaruhi pula oleh kelembagaan asli dan kelembagaan atas desa. Kelembagaan ketahanan pangan di dua desa di kabupaten Garut dibangun berdasarkan kesepakatan dari warga tiap dusun untuk menentukan anggota, pengurus, jenis usaha sesuai kondisi lokal, dengan didampingi oleh pendamping dan PPL yang cukup kompeten. Kelembagaan asli, lumbung paceklik dan beras parelek yang didasari solidaritas, kerjasama, dan dukungan lembaga pengajian sebagai wadah masuk program serta dukungan pemerintah desa telah membuat kelembagaan ketahanan pangan yang dibangun menjadi semakin kuat. Namun kemampuan ini belum cukup memadai untuk terus berkembang besar, karena dukungan pemerintah atas desa masih lemah. Kelembagaan ketahanan pangan (kelompok afinitas) di dua desa di kabupaten Klaten lebih memprihatinkan perkembangannya karena kelembagaan asli memudar, kelembagaan kelompok afinitas tidak dibangun dengan baik dan tidak didampingi dengan baik pula. Sementara dukungan dari pemerintah atas desa cenderung bersifat instan dan tidak berkelanjutan.</li>
<li>Model pemberdayaan petani di setiap desa juga spesifik menurut dinamika masyarakat, perkembangan kelembagaan kelompok afinitas, serta tahapan perkembangan implementasi program mapan. Di kabupaten Garut, kegiatan pemberdayaan kelompok afinitas relatif lebih berhasil dibandingkan kabupaten Klaten, karena kegiatan pendampingan relatif terkawal lebih baik. Situasi konflik politik dan kepentingan aktor sangat mewarnai kegiatan pemberdayaan petani di kabupaten Klaten, sehingga relatif berjalan lebih lambat.</li>
<li>Ciri-ciri rumahtangga petani mandiri dan sejahtera juga beragam menurut lokasi. Petani di desa Girijaya kabupaten Garut relatif lebih mandiri secara ekonomi, dan sejalan dengan kesejahteraan ekonomi maupun sosial (pengembangan solidaritas, kerjasama, rasa aman dan tentram. Dalam bahasa sunda: saling asah, saling asuh, dan saling asih). Warga miskin di desa Jambakan kabupaten Klaten belum memiliki kemampuan untuk memperjuangkan hak-haknya mengakses program, perkembangan usaha ke arah off farm masih dikuasai golongan non rumahtangga miskin, didukung oleh kepentingan elite desa. Solidaritas dan kerjasama melemah. Hal ini masih didukung oleh program-program atas desa yang cenderung bersifat instan dan tidak berkelanjutan, hanya untuk kepentingan “image pemerintah atas desa” saja.</li>
</ol>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/beda-abstrak-dan-ringkasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
