<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title># perjalanan dan berbagi # &#187; Sociology</title>
	<atom:link href="http://mahmudisiwi.net/category/sociology/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mahmudisiwi.net</link>
	<description>Hidup harus memberi manfaat...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Aug 2010 02:57:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Melihat Perubahan Sosial</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/melihat-perubahan-sosial/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/melihat-perubahan-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 03:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sociology]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi pedesaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali kita mengatakan bahwa telah terjadi perubahan (untuk selanjutnya ada disebut perubahan sosial) dalam masyarakat. Tapi diperlukan pertanyaan lanjutan terhadap terjadinya perubahan tersebut, misalnya apanya yang berubah? Kira-kira untuk melihat perubahan sosial dalam masyarakat, kita perlu melihat 6 (enam) hal berikut: 1. Identitas Untuk melihat perubahan sosial maka kita perlu menganalisa sejauhmana identitasnya berubah. Hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><img class=" " src="http://farm4.static.flickr.com/3511/3236066994_04eb11f239.jpg" alt="" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">sosiologi: perubahan sosial</p></div>
<p>Seringkali kita mengatakan bahwa telah terjadi perubahan (untuk selanjutnya ada disebut perubahan sosial) dalam masyarakat. Tapi diperlukan pertanyaan lanjutan terhadap terjadinya perubahan tersebut, misalnya apanya yang berubah? Kira-kira untuk melihat perubahan sosial dalam masyarakat, kita perlu melihat 6 (enam) hal berikut:</p>
<h4>1. Identitas</h4>
<p>Untuk melihat perubahan sosial maka kita perlu menganalisa sejauhmana identitasnya berubah. Hal ini bisa ditujukkan dengan berubahnya pola pekerjaan, struktur sosial, perilaku, pola kekuasaan, organisasi, dan hubungan-hubungan dalam keluarga.<span id="more-242"></span></p>
<h4>2. Level of Change</h4>
<p>Level menunjukkan pada tingkatan mana perubahan sosial terjadi. Atau bisa juga kita ingin melihat/menganalisisi pada tingkatan mana perubahan sosial terjadi. Untuk level kita bisa melihat pada level individu, grup, organisasi, komunitas, masyarakat, dan global.</p>
<h4>3. Durasi</h4>
<p>Durasi perubahan sosia melihat berapa lama perubahan tersebut mampu berjalan. Apakah short term atau long term? Perubahan yang jangka pendek atau perubahan yang jangka panjang? Tapi, perlu diketahui bahwa durasi ini menjadi relatif bagi setiap analisa, maksudnya lama pendeknya waktu tergantung pada perbandingan yang akan digunakan.</p>
<h4>4. Direction</h4>
<p>Direction berbicara pada arah perubahan sosial. Kearah mana perubahan sosial terjadi? Apakah kearah perbaikan atau justru ke arah kehancuran? Kearah pembangunan atau kearah kemunduran?</p>
<h4>5. Magnitude</h4>
<p>Magnitude menunjukkan seberapa besar ukuran perubahan sosial. Perubahan sosial yang radikal, sebagian, revolusioner, atau komprehenship.</p>
<h4>6. Rate of Change</h4>
<p>Rate of change berarti kecepatan perubahan terjadi. Sekilas memang hampir sama dengan durasi. Perbedaannya adalah jika durasi melihat seberapa lama suatu perubahan dapat bertahan, tapi jika rate of change melihat seberapa cepat/lambat suatu perubahan terjadi.</p>
<p>Kira-kira keenam hal terbut yang perlu diperhatikan jika kita ingin melihat perubahan sosial.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/melihat-perubahan-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekologi Manusia: Sosiologi Lingkungan?</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/ekologi-manusia-sosiologi-lingkungan/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/ekologi-manusia-sosiologi-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 14:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sociology]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi manusia]]></category>
		<category><![CDATA[fakultas ekologi manusia]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda berkenalan dengan seseorang, dan kemudian orang tersebut memperkenalkan diri sebagai sosiolog lingkungan, akan terbersit dalam pikiran anda apa yang dilakukan seorang sosiolog dengan lingkungan? Sosiolog adalah seseorang yang mempelajari masyarakat, dari lingkup kelompok, komunitas, masyarakat, bangsa sampai negara, dalam konteks pedesaan, perkotaan, perbatasan, pesisir, hutan, perkebunan, tanaman pangan, Daerah Aliran Sungai (DAS), sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-120 alignleft" style="margin: 6px;" title="pantai-desa-cigadog-garut" src="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2009/01/pantai-desa-cigadog-garut-300x199.jpg" alt="Pantai di Desa Cigadog, Garut" width="300" height="199" /></p>
<p>Jika anda berkenalan dengan seseorang, dan kemudian orang tersebut memperkenalkan diri sebagai sosiolog lingkungan, akan terbersit dalam pikiran anda apa yang dilakukan seorang sosiolog dengan lingkungan? Sosiolog adalah seseorang yang mempelajari masyarakat, dari lingkup kelompok, komunitas, masyarakat, bangsa sampai negara, dalam konteks pedesaan, perkotaan, perbatasan, pesisir, hutan, perkebunan, tanaman pangan, Daerah Aliran Sungai (DAS), sampai industri. Apakah ia juga mempelajari lingkungan (alam)?</p>
<p>Sosiologi lingkungan merupakan kajian komunitas dalam arti yang sangat luas (Bell 1998). Orang, binatang, lahan dan tanaman yang tumbuh di atasnya, air, udara – semuanya memiliki hubungan kait mengait yang sangat erat. Bersama-sama mereka membentuk semacam solidaritas, yang kemudian kita sebut dengan ekologi. Seperti dalam banyak komunitas, mereka juga mengalami konflik ditengah-tengah hubungan tersebut. Sosiolog lingkungan mengkaji komunitas terluas tersebut dengan maksud untuk memahami asal usul, dan solusi yang diusulkan dari seluruh konflik sosial dan biofisik yang sangat nyata.<span id="more-115"></span></p>
<p>Masalah lingkungan tidak hanya  berupa masalah teknologi dan industri, ekologi dan biologi, pengendalian polusi dan pencegahan polusi. Masalah lingkungan juga berupa masalah sosial. Masalah lingkungan adalah masalah bagi masyarakat – merupakan masalah yang mengancam pola-pola organisasi sosial yang ada dalam masyarakat. Adalah manusia yang menciptakan masalah lingkungan, dan manusia juga yang harus mencari jalan keluarnya. Berangkat dari hal inilah dibutuhkan kehadiran teori sosiologi lingkungan.</p>
<p>Ekologi sering digambarkan sebagai kajian tentang komunitas alam. Sementara sosiologi digambarkan sebagai kajian tentang komunitas manusia. Sosiologi lingkungan merupakan kajian keduanya secara bersama-sama, dimana bumi yang satu harus kita tinggali bersama-sama, kadang-kadang dengan rasa enggan (tidak suka), dengan manusia lain, bentuk kehidupan lain, dan batu, air, tanah dan udara yang mendukung seluruh kehidupan.</p>
<blockquote><p>(Catatan: tulisan ini adalah kutipan sebagian dari buku Ekologi Manusia yang diterbitkan oleh Fakultas Ekologi Manusia IPB. Bagi yang tertarik untuk memiliki buku ini bisa menghubungi saya dengan biaya Rp 150.000,- belum termasuk ongkos kirim. Pemesanan bisa melalui kotak komentar. Terimakasih.)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/ekologi-manusia-sosiologi-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Model of Farmer Empowerment (part 1)</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/the-model-of-farmer-empowerment-toward-self-dependant-and-prosperous-village-part-1/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/the-model-of-farmer-empowerment-toward-self-dependant-and-prosperous-village-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 02:57:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sociology]]></category>
		<category><![CDATA[empowerment]]></category>
		<category><![CDATA[food security]]></category>
		<category><![CDATA[local institution]]></category>
		<category><![CDATA[peasant]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[By: Titik Sumarti, Fredian Tonny Nasdian, Tri Pranadji, Handewi Purwati S. Rachman, Rais Sonaji, Siti Masithoh, Mahmudi Siwi The problem of food security and poverty aleviation are the main problem of  rural society development. Therefore the direction of food security development are focused on some efforts to empower and prosperous rural society, especially for the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Titik Sumarti, Fredian Tonny Nasdian, Tri Pranadji, Handewi Purwati S. Rachman, Rais Sonaji, Siti Masithoh, Mahmudi Siwi</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-108" title="petani2" src="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2008/12/petani2-300x199.jpg" alt="petani2" width="300" height="199" />The problem of food security and poverty aleviation are the main problem of  rural society development. Therefore the direction of food security development are focused on some efforts to empower and prosperous rural society, especially for the small peasant households. The governance necessity and peasant necessity must be harmonized on the food security development, so it is needed to empower the peasant and changes the subject-object relation to be the subject-subject relation. The title of the research is The Model of Peasant Empowerment toward Self-Dependant and Prosperous Village; Study of Policy and Economic Sociology on Food Security of Food Crises Village Community in Java.<span id="more-107"></span></p>
<p>The long term objective of this research is to formulate a model of peasant empowerment in order to accelerate the peasant&#8217;s self-dependency and sustainability of household as well as national food security.  The peasant empowerment is the path for the peasants to participate in food security programs so that they are able to develop their own village to be prosperous and self-dependent.  Whereas the immediate objective of this research intended to review the course, objective, approach, and the implementation of food-security-related programs (especially programs directly related and support the village food-security program; to study the social dynamics, cultural issues, economic features, and politics development around the community in poor food-security region that was based on the diversity of local social and ecological capital; and to study the local institution and peasant&#8217;s household food-security.</p>
<p>In order to accomplish the above objectives, at the first year (2007) of program implementation; the activities were: (1) to review the approach and program implementation on food security policy at macro perspective (central), meso (regional), and micro (village and community); (2) to identify the strategic potencies and issues on socio-culture, economic, politic, and village environment; (3) to identify the characteristics of local institution and its interaction to food-security intervention institution; (4) to identify the current food-security condition of peasant&#8217;s household.  The research was done in two provinces, West Java and Central Java which represented the poor food security, that are: Cigadog village – Cikelet subdistrict and Girijaya village – Kersamanah subdistrict – West Java, and Jambakan village – Bayat subdistrict and Glagah village – Jatinom subdistrict – Central Java. The method used in research in the first year was the approach of policy study, community study (through survey and qualitative approaches), and case study.  At the macro perspective, an analysis on secondary data (report of  food-security policy implementation program) was performed.  At the meso and micro perspectives; group discussion and in-depth interview were performed to community level groups which were participants to the program, in-depth interview to villages key persons, case study to local institution, and survey for food-security characteristics to forty peasant households sampled per village.</p>
<p>Expected output of the first year: (1) document of review the approach and program implementation on food security policy at macro perspective (central), meso (regional), and micro (village and community); (2)    document of environment, politic, economic-social mapping of the village; (3) document of the characteristics of local institution and its interaction to food-security intervention institution; (4)    document of the current food-security condition of peasant&#8217;s household.</p>
<p>The result research indicate that are: (1) the implementation of food self reliant village program at Garut district is more succesfull relative than Klaten district; (2) the succesfull keys are: facilitasy process and the role of community organizator; the same perception and support of the stakeholders at district level until village level can drive the participation of community; (3) The role of community organizator to develop cooperation with  community can motivate and drive the behavior changes of community to develop self-help community; (4) The appearance of community-consciousness about the important of work, cooperative, and concensus have going on livelihood activity and afinity group of community; (5) The appearance of community trust to local leader, whereas community are driven to develop their ability to manage the local institution.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/the-model-of-farmer-empowerment-toward-self-dependant-and-prosperous-village-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunitas Petani</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/komunitas-petani/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/komunitas-petani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 01:29:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sociology]]></category>
		<category><![CDATA[farmer]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[peasant]]></category>
		<category><![CDATA[petani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Setidaknya terdapat tiga konsep tentang petani yang pada umumnya masih berbeda. Pertama, istilah petani menunjuk kepada penduduk pedesaan secara umum, tidak peduli apa pun kerjanya. Kedua, pandangan yang lebih terbatas dibanding konsep pertama, seperti dalam tulisan James C. Scott. Menurutnya definisi petani tidak mencakup seluruh penduduk pedesaan, tetapi hanya menunjuk kepada penduduk pedesaan yang bekerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-105" style="margin: 6px;" title="petani1" src="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2008/12/petani1-300x199.jpg" alt="petani1" width="300" height="199" />Setidaknya terdapat tiga konsep tentang petani yang pada umumnya masih berbeda. <em>Pertama</em>, istilah petani menunjuk kepada penduduk pedesaan secara umum, tidak peduli apa pun kerjanya. <em>Kedua</em>, pandangan yang lebih terbatas dibanding konsep pertama, seperti dalam tulisan <strong>James C. Scott</strong>. Menurutnya definisi petani tidak mencakup seluruh penduduk pedesaan, tetapi hanya menunjuk kepada penduduk pedesaan yang bekerja sebagai petani saja. Artinya <strong>petani adalah orang yang bercocok tanam (melakukan budidaya) di lahan pertanian </strong>(Scott, 1976). <em>Ketiga</em>, pandangan yang mengikuti Wolf, menurutnya petani adalah segolongan orang yang memiliki sekaligus menggarap lahan pertanian guna menghasilkan produk yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bukan dijual (Wolf, 1985). <span id="more-100"></span></p>
<p>Ketiga konsep di atas cenderung menimbulkan pertanyaan. Setidaknya jika petani mencakup seluruh penduduk pedesaan. Disadari bahwa belum tentu seluruh penduduk pedesaan itu adalah petani. Berkaitan dengan hal tersebut Marzali (1999), memberikan konsep petani (<em>peasant</em>) agar dapat dioperasionalkan sesuai konteks Indonesia. Menurutnya, petani ditinjau dari proses perkembangan tingkat sosio-kultural masyarakat manusia, maka dapat dibagi dalam tiga ciri-ciri khusus. <em>Pertama</em>, secara umum petani berada di antara masyarakat primitif dan kota (moderen). <em>Kedua</em>, petani adalah masyarakat yang hidup menetap dalam komunitas pedesaan. <em>Ketiga</em>, dipandang dari sudut tipe produksi, termasuk di dalamnya teknologi dan mata pencaharian, maka petani berada pada tahap transisi antara petani primitif dan petani moderen (<em>farmer</em>).</p>
<p>Petani primitif dan petani (<em>peasant</em>) perbedaannya pada teknologi yang digunakan. Petani primitif menggunakan peralatan sederhana seperti tugal dan golok, sedangkan petani (<em>peasant</em>) menggunakan cangkul (pacul), garu dan bajak. Perbedaan pada tingkat ini belum dipandang sebagai hal penting. Perbedaan penting adalah bagaimana hubungan kedua tipe petani itu dengan kota. Seperti diungkapkan oleh Redfield (1985), bahwa terbentuknya petani <em>peasant</em> itu karena munculnya kota atau kotalah yang membuat adanya petani peasant. Tidak ada petani peasant sebelum kota pertama muncul di muka bumi ini. Sebaliknya petani primitif adalah petani yang hidup dan hubungannya dengan kota relatif terisolasi (terbatas). Pada konteks Indonesia saat ini, kelompok masyarakat (komunitas) primitif ini mungkin dikenakan kepada masyarakat berburu dan meramu atau dikenal dengan masyarakat terasing.</p>
<p>Perbedaan antara petani peasant dengan farmer terletak pada sifat usahatani yang dilakukan. Peasant berusahatani dengan bantuan keluarga dan hasilnya juga untuk keluarga. Sedangkan petani farmer berusahatani dengan bantuan tenaga buruh tani dan bertujuan mencari keuntungan. Produksi tidak hanya untuk keluarga, justru sebagian besar dijual ke pasar guna mendapatkan keuntungan. Singkatnya, dikatakan oleh Wolf (1985) bahwa, petani peasant berusahatani keluarga, sedangkan petani farmer berusahatani seperti prinsip ekonomi perusahaan (komersil). Kesamaannya adalah sama-sama mempunyai hubungan dengan kota secara politis, ekonomis dan kultural.<br />
Berbagai konsep petani tersebut, mengisyarakatkan bahwa petani tidak lepas dari komunitas. Istilah komunitas pun mempunyai makna beragam, setiap segi-segi pengertiannya mempunyai arti yang sama penting. Redfield dalam Koentjaraningrat (1990) mengatakan bahwa, umumnya antropolog memandang komunitas dari sudut pandang ekologis. Dari sudut pandang ini komunitas didefinisikan sebagai satuan sosial yang utuh dan terikat pada sistem ekologi yang bulat. Keterikatan pada tempat ini kemudian dikenal dengan sebutan kesatuan hidup setempat, yaitu yang lebih terikat pada ikatan tempat kehidupan daripada ikatan lain seperti kekerabatan, kepercayaan dan sejenisnya.</p>
<p>Tinjauan aspek ekologis menekankan pada segi ruang (spasial) dari komunitas. Sehingga penting memperhatikan batas-batas ruang komunitas. Berkaitan dengah hal itu Sanders (1958) membagi komunitas menjadi empat tipe. Pertama, komunitas pedesaan yang terisolir dan relaltif mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Kedua, komunitas kota kecil dan ketiga, komunitas urban serta yang keempat, sub-komunitas metropolitan. Dari keempat jenis komunitas tersebut, biasanya komunitas pedesaan yang banyak menarik perhatian. Umumnya hal ini dikarenakan komunitas pedesaan lebih memiliki sifat isolasi dan swadaya dibandingkan dengan komunitas lainnya.</p>
<p>Berbeda dengan Redfield, selain menekankan aspek ekologis Sanders juga menekankan komunitas sebagai sistem sosial. Konsep ini tidak hanya membatasi komunitas pedesaan yang cenderung terisolasi. Namun aspek ekologis juga tidak dilupakan, dan segi-segi lain yang membentuk pengertian komunitas juga dikemukakan. Misalnya komunitas sebagai suatu ruang maka, dalam dirinya juga terbentuk suatu arena interaksi. Artinya sebagai suatu tempat untuk berinteraksi maka, komunitas tidak hanya melibatkan sebatas pria dan wanita, orang tua dan anak-anak. Tetapi melibatkan setiap pelaku dalam komunitas yang mencakup seluruh segi kehidupan dari kategori seperti umur, jenis kelamin, suku, ras dan berbagai latar belakang lainnya.</p>
<p>Gambaran komunitas sebagai sistem sosial menurut Sanders (1958) mengacu pada ruang relasi sosial. Ruang relasi sosial diisi oleh lima faktor yaitu:</p>
<ol>
<li>Ekologi, komunitas berada dan terorganisasi di wilayah serta hidup dengan pola pemukiman tertentu. Di dalamnya tercipta jaringan komunikasi yang beroperasi dengan baik, ada distribusi berbagai fasilitas, layanan sosial dan orang mampu mengembangkan identitas psikologis dengan simbol lokalitas.</li>
<li>Demografi, dalam komunitas yang terdiri dari populasi pada semua tahap lingkaran hidup sedemikian rupa sehingga anggota baru muncul melalui proses kelahiran. Setiap individu di komunitas harus memiliki keterampilan dan pengetahuan teknis yang memadai untuk kelangsungan hidupnya.</li>
<li>Budaya, setiap komunitas bertujuan mencapai kesejahteraan tertentu, untuk itu mereka mempunyai cara dan nilai tersendiri. Kecenderunganya mencapai suatu integrasi normatif dan merangkum secara keseluruhan dibandingkan dengan tujuan satu atau beberapa kelompok di dalam komunitas.</li>
<li>Personalitas, komunitas mempunyai mekanisme mensosialisasikan anggota baru dan mengembangkan identitas psikologis dengan simbol lokalitas.</li>
<li>Waktu, komunitas tentu berada dalam rentang waktu. Artinya komunitas membutuhkan waktu sehingga bisa mencapai tingkat kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/komunitas-petani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sosiologi: Ilmu Berparadigma Ganda (Part 1)</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/sosiologi-ilmu-pengetahuan-berparadigma-ganda-bagian-1/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/sosiologi-ilmu-pengetahuan-berparadigma-ganda-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 13:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sociology]]></category>
		<category><![CDATA[paradigma]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas Kuhn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai suatu konsep, istilah paradigma (paradigm) pertama kali dikenalkan oleh Thomas Kuhn dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution (1962). Sebagaimana diketahui Karya Thomas Kuhn menempati posisi sentral di tengah-tengah perkembangan sosiologi selama kurang lebih dua dekade terakhir ini. Kuhn menawarkan suatu cara yang bermanfaat terhadap para sosiolog dalam mempelajari disiplin ilmu mereka. Konsep paradigma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-93" style="margin: 6px;" title="bergaya-dipantai" src="http://mahmudisiwi.net/wp-content/uploads/2008/12/bergaya-dipantai-300x225.jpg" alt="bergaya-dipantai" width="300" height="225" />Sebagai suatu konsep, istilah paradigma (paradigm) pertama kali dikenalkan oleh <strong>Thomas Kuhn</strong> dalam karyanya <em>The Structure of Scientific Revolution</em> (1962). Sebagaimana diketahui Karya Thomas Kuhn menempati posisi sentral di tengah-tengah perkembangan sosiologi selama kurang lebih dua dekade terakhir ini. Kuhn menawarkan suatu cara yang bermanfaat terhadap para sosiolog dalam mempelajari disiplin ilmu mereka. Konsep paradigma yang diperkenalkan Kuhn kemudian dipopulerkan oleh <strong>Robert Friedrichs</strong> melalui bukunya <em>Sociology of Sociology </em>(1970).<span id="more-92"></span></p>
<p>Tujuan utama Kuhn dalam bukunya <em>The Structure of Scientific Revolution</em> itu adalah untuk menantang asumsi yang berlaku umum dikalangan ilmuwan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. Kalangan ilmuwan pada umumnya berpendirian bahwa perkembangan atau kemajuan ilmu pengetahuan itu terjadi secara komulatif. Pandangan demikian mendapatkan dukungan antara lain dengan melalui penerbitan buku teks yang memberikan kesan yang sama bahwa ilmu berkembang secara komulatif. Kuhn menilai pandangan demikian sebagai mitos yang harus dihilangkan. Inti tesis Kuhn adalah bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah terjadi secara komulatif tetapi terjadi secara revolusi. Ia berpendapat bahwa sementara komulatif memainkan peranan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, maka sebenarnya perubahan utama dan penting dalam ilmu pengetahuan itu terjadi sebagai akibat dari revolusi.</p>
<p>Kuhn melihat bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh suatu paradigma tertentu. Yakni suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan (<em>subject matter</em>) dari suatu cabang ilmu.</p>
<p>Konsep paradigma yang digunakan oleh Kuhn dapat dielompokkan kedalam 3 (tiga) tipe:</p>
<ol>
<li>Paradigma Metafisik (<em>metaphisical paradigm</em>),</li>
<li>Paradigma yang bersifat sosiologis (<em>sociological paradigm</em>),</li>
<li>Paradigma konstrak (<em>construct paradigm</em>)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/sosiologi-ilmu-pengetahuan-berparadigma-ganda-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masyarakat vs Komunitas</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/masyarakat-vs-komuniktas/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/masyarakat-vs-komuniktas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 15:32:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sociology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Bagi yang belajar sosiologi, maka akan sangat akrab dengan kedua istilah ini, yakni &#8220;masyarakat&#8221; dan &#8220;komunitas&#8221;. Lalu apa bedanya antara &#8220;masyarakat&#8221; dengan &#8220;komunitas&#8221;. Masyarakat Menurut Ralp Linton, masyarakat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama dalam waktu yang cukup lama sehingga mereka dapat mengatur dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial. Sedangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi yang belajar sosiologi, maka akan sangat akrab dengan kedua istilah ini, yakni &#8220;masyarakat&#8221; dan &#8220;komunitas&#8221;. Lalu apa bedanya antara &#8220;masyarakat&#8221; dengan &#8220;komunitas&#8221;.</p>
<p><strong>Masyarakat</strong></p>
<p>Menurut Ralp Linton, masyarakat didefinisikan sebagai kelompok manusia <img src="http://img143.imageshack.us/img143/8502/foto8jv9.th.jpg" align="right" border="0" />yang telah hidup dan bekerjasama dalam waktu yang cukup lama sehingga mereka dapat mengatur dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial. Sedangkan menurut Selo Soemardjan, masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Oleh Soekanto, masyarakat dicirikan oleh 4 (empat) unsur, yakni (1) manusia yang hidup bersama; (2) bercampur untuk waktu yang cukup lama; (4) sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan; dan (4) mereka merupakan suatu sistem hidup bersama.</p>
<p><strong>Komunitas</strong></p>
<p>Menurut Murdock, komunitas didefinisikan sebagai kelompok orang-orang dalam jumlah tertentu yang biasa tinggal bersama dalam persekutuan (asosiasi) yang akrab (<em>face to face</em>).  Komunitas merupakan kelompok sosial yang bertempat tinggal di lokasi tertentu, memiliki kebudayaan dan sejarah yang sama. Komunitas juga dapat diartikan sebagai satuan pemukiman yang terkecil; di atasnya ada kota kecil (<em>town</em>) dan di atas kota kecil ada kota atau kota besar (<em>city</em>).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/masyarakat-vs-komuniktas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tokoh-tokoh dalam Perkembangan Ilmu Sosiologi</title>
		<link>http://mahmudisiwi.net/tokoh-tokoh-dalam-perkembangan-ilmu-sosiologi/</link>
		<comments>http://mahmudisiwi.net/tokoh-tokoh-dalam-perkembangan-ilmu-sosiologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 08:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahmudi Siwi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sociology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahmudisiwi.net/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Aguste Comte (1798-1857) Banyak ahli-ahli sosiologi baik di Indonesia maupun Internasional mengenal tokoh ini sebagai Bapak Sosiologi. Menurut Aguste Comte sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social statistics dan social dynamics. Sebagai social statistics, ilmu sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sementara sebagai social dynamics, ilmu sosiologi meneropong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aguste Comte (1798-1857) </strong></p>
<p>Banyak ahli-ahli sosiologi baik di Indonesia maupun Internasional mengenal tokoh ini sebagai Bapak Sosiologi. Menurut Aguste Comte sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu <em>social statistics</em> dan <em>social dynamics</em>.</p>
<p>Sebagai <em>social statistics</em>, ilmu sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sementara sebagai <em>social dynamics</em>, ilmu sosiologi meneropong bagaimana lembaga-lembaga tersebut berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa.</p>
<p>Tiga tahap perkembangan pikiran manusia:</p>
<ol>
<li><strong>Tahap teologis</strong>, ialah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia ini mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh sesuatu kekuatan yang berada di atas manusia.</li>
<li><strong>Tahap metafisis</strong>, pada tahap ini manusia masih percaya bahwa gejala-gejala di dunia ini disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang berada diatas manusia.</li>
<li><strong>Tahap positif</strong>, merupakan tahap di mana manusia telah sanggup untuk berpikir secara ilmiah. Pada tahap ini berkembanglah ilmu pengetahuan.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahmudisiwi.net/tokoh-tokoh-dalam-perkembangan-ilmu-sosiologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
