Tahun 1866, Ernst Haeckel – seorang ahli ilmu biologi dari Jerman – untuk pertama kalinya memperkenalkan istilah oekologi yang kemudian dikenal sebagai ekologi. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, oekos berarti rumah dan logi atau logos berarti ilmu. Sehingga secara harfiah ekologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau dapat diartikan juga sebagai ilmu tentang rumahtangga makhluk hidup. Dari pengertian generik ini selanjutnya berkembang berbagai disiplin yang mempelajari dinamika dan karakter kehidupan berbagai rumahtangga spesies, populasi, komunitas hingga ekosistem alam termasuk ekosistem buatan manusia (man-made ecosystem).
Dalam ekologi dipelajari bagaimana makhluk hidup berinteraksi timbal balik dengan lingkungan hidupnya – baik yang bersifat hidup (biotik) maupun tak hidup (abiotik) – sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu jaring-jaring sistem kehidupan pada berbagai tingkatan organisasi. Di dalam ekosistem, tumbuhan, hewan, dan mikro-organisme saling berinteraksi – melakukan transaksi materi dan energi – membentuk satu kesatuan sistem kehidupan.
Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB dalam buku renstranya, menjelaskan bahwa ekologi manusia secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia – berikut dengan kebudayaannya – dengan lingkungan hidup di sekitarnya. Selanjutnya, FEMA beranjak dari pengertian generik tersebut, paling tidak kini telah berkembang tiga arus utama (mainstream) kajian ekologi manusia, yaitu:
Pertama, ekologi manusia sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana transaksi materi dan energi berlangsung di dalam “rumah tangga” manusia sehingga para anggota rumah tangga tersebut dapat bertahan, tumbuh dan berkembang.
Kedua, ekologi manusia sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana kebudayaan, sistem sosial dan lansekap ekologi terbentuk sebagai hasil adaptasi panjang manusia dan lingkungan hidup di sekitarnya.
Ketiga, ekologi manusia sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana peradaban dan tatanan sosial ekonomi dan budaya masyarakat melakukan reposisi dan restrukturisasi terhadap kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Dalam buku Ekologi Manusia yang diterbitkan oleh FEMA IPB (2007), Arya H. Dharmawan menjelaskan bahwa ekologi manusia dipahami secara sederhana sebagai “ilmu tentang hubungan timbal balik mahluk hidup (dalam hal ini manusia) dengan lingkungan hidupnya”. Marten (2001) memahami ekologi manusia sebagai: “ilmu yang memberikan landasan analisis yang berguna untuk memahami konsekuensi aktivitas-aktivitas manusia pada sistem sosial dan sistem ekologi” secara sekaligus. Diesendorf dan Hamilton (1997) memahami ekologi manusia sebagai bidang ilmu yang mempelajari: “the relationship between humanity and their non-living environment”. Sementara itu, Micklin dan Poston (1998) memahami ekologi manusia sedikit lebih provokatif dengan membedakannya dengan bio-ekologi secara umum, sebagai: “human ecology is a field of study grounded in the four referential construct population, technology, organization, and environment”.
Popularity: 40% [?]

mas kapan pelatihan web site nya…ditunggu infonya
mas, thx ya atas info-infonya yg tlh dirilis di websitenya. Btw lulusan IPB departmen apa n angktan brp? Oh ya, kenalin sy, ali yansyah. Sy EPS’38 skr gawe jd peneliti di PPK LIPI Bid. Ekologi Manusia
Saya lulusan IPB, angkatan 36, program studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP) sekarang Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM). Sukses ya di LIPI, kalo ada yang bisa dikerjasamakan, kontak aja? He…
mas sekalian contoh hubungan timbal balik
thx’s ya wat info nya..
kalo perlu diperbanyak n diperbaharui lagi biar
mas referensi bagus tentang kajian ekologi manusia apa yah
mas referensi bagus tentang kajian ekologi manusia apa yah
mampir ke blog saya juga yah ^^