Sebagai mahasiswa tentu tugas akhirnya adalah melakukan penelitian, dan output dari penelitian bagi mahasiswa tingkat sarjana (S1) adalah skripsi atau thesis bagi mahasiswa tingkat S2. Dalam pengamatan saya selama menjadi asisten beberapa matakuliah di kampus IPB, mahasiswa terutama mahasiswa S1 seringkali mengalami kesulitan dalam menentukan topik penelitiannya. Oke, mari kita sama-sama menyimak sebuah kisah, semoga dapat menginpirasi untuk penelitian. Kira-kira begini kisahnya:
Pada suatu ketika di negeri Arab (anggap saja begitu), terdapat orang yang sangat terkenal dengan keahliaannya memainkan jarum jahit pakaian. Dia mampu menembakkan jarum tersebut, ke lubang jarum yang lain dari jarak 5 meter.
Keahlian orang tersebut sampai terdengarlah ke Sang Raja, dan Sang Raja tersebut memerintahkan kepada abdi kerajaan untuk memanggil orang tersebut dan memperagakan di depannya. Benar saja, Sang Raja sangat terkagum-kagum dengan keahlian yang dimiliki oleh orang tersebut, dan Raja memberikan hadiah 100 dirham. Tapi setelah mengambil uang tersebut, dia justru mendapat cambukan 100 kali. Kagetlah orang tersebut, lalu bertanya kepada Sang Raja:
Hamba : “Wahai Raja, kenapa saya diberi hadiah 100 dirham, lalu saya di cambuk 100 kali?”
Sang Raja: “Saya memberikan hadiah karena saya takjub dengan keahlian yang kamu miliki. Dan saya memberikan cambukan karena saya menyesal dengan keahlian yang kamu miliki.”
Hamba: “kenapa menyesal, Baginda?”
Sang Raja: “Karena buat apa memiliki keahlian seperti itu. Apakah mungkin seorang penjahit untuk memasukkan benangnya melakukan dengan cara seperti kamu? Keahlian kamu itu, tidak memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar kamu”.
Dari cerita tersebut dapat dijelaskan seperti yang telah dijelaskan oleh Suriasumantri (1981:4-5) tentang hubungan falsafah dengan ilmu. Ilmu pengatahun selalu didasari oleh 3 (tiga) hal, yakni dasar ontology, dasar epistemology dan dasar axiology. Lalu apa yang membedakan dari ketiga dasar tersebut?
Suriasumantri (1981) dalam Wahyuni dan Muljono (2007) menjelaskan bahwa ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, atau suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Epistemologi adalah untuk menjawab, bagaimana cara kita mendapatkan pengetahuan mengenai obyek tersebut. Sedangkan axiologi adalah tentang apa kegunaan pengetahuan tersebut.
Jadi, perbedaan ontologi, epistemologi dan axiologi dapat disederhanakan bahwa onotologi = apa yang ingin diketahui, epistemologi = metode mendapatkan pengetahuan, dan axiologi = manfaat/kegunaan pengetahuan tersebut.
Nah, mungkin kita bertanya, apa hubungannya dengan menentukan topik penelitian? Topik penelitian kita bisa jadi secara ontologi dan epistemologi benar, tapi belum tentu secara axiologi penelitian kita akan bermanfaat bagi masyarakat luas, seperti yang terjadi dalam kisah diatas. Lalu musti bagaimana? Saya berpendapat bahwa penelitian mahasiswa tingkat sarjana (S1) wajib memiliki kebenaran ontologi dan epistemologi, namun akan lebih baik lagi jika secara axiologi memiliki manfaat yang baik bagi masyarakat luas.
Popularity: 52% [?]

tulisan anda menyadarkan saya kembali.